Bursa Transfer

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » » » » Irriducibili Lazio, Dari Nesta, Simeone Hingga Candreva

Diego Simeone (Zimbio/Tribunnews)



Irriducibili Lazio, Dari Nesta, Simeone Hingga Candreva

oleh Galuh Trianingsih Lazuardi

© 2012



Menjelang laga Lazio melawan Atletico Madrid pada Liga Eropa pekan lalu, ada fenomena menarik dari curva nord Olimpico. Sekitar 25.000 Laziali bersama-sama meneriakkan, “Simeo, Simeo, Simeone…” saat nama pelatih tim ibukota Spanyol itu disebutkan. Sebuah benner pun dibentangkan, “Welcome home, Cholo!” menyebutkan nama panggilan pria Argentina berusia 41 tahun ini. Walaupun Simeone memang pernah memperkuat Lazio antara 1999-2002 dan berperan signifikan dalam memberi Biancocelesti 4 trofi bergengsi, malam itu sesungguhnya dia adalah lawan.



Hal serupa terjadi secara berkala saat AC Milan menantang Lazio di Olimpico pada laga Serie-A ataupun Coppa Italia. Milan adalah rival utama Lazio di samping AS Roma, Juventus dan Napoli, sorakan dan siulan cemooh selalu terdengar saat nama pemain Milan disebutkan atau saat mereka menguasai bola. Kecuali Alessandro Nesta. Dia selalu mendapatkan tepuk tangan saat namanya disebutkan dan tiada siulan saat dia menguasai bola. Nesta memang menghuni tempat khusus di hati Laziali. Kelahiran Kota Roma, merintis karir sejak masa kanak-kanak, menjadi bintang tim Primavera Lazio dan akhirnya menjadi kapten tim utama pada usia 19 tahun, menjadi Pangeran Olimpico, hingga krisis keuangan akibat mis-manajemen Cragnotti membuatnya hijrah ke Kota Milano demi menyelamatkan klub yang telah membesarkannya.



Simeone dan Nesta, meskipun telah meninggalkan Formello, tetap memperoleh respek dari Laziali. Mereka berdua pun tetap memiliki kenangan indah saat mengenakan kostum birulangit. Simeone selalu mengatakan bahwa tiga tahun di Olimpico adalah periode terindah karirnya. Nesta bahkan menegaskan berulang kali bahwa walaupun jersey-nya berwarna merah-hitam, namun hatinya tetap berwarna birulangit. Awal tahun lalu dia siap untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan rossoneri agar Lazio dapat menggaetnya dengan status bebas transfer di awal musim 2011/2012 dan pensiun dengan mengenakan kostum kebanggannya, birulangit. Hanya kekerasan kepala Lotito yang tidak menginginkan apapun yang beraroma era Cragnotti lah yang membuat keinginan Nesta urung.



No Respect For Mercenaries

Tidak semua mantan punggawa birulangit seberuntung Simeone dan Nesta. Bagi ultras Lazio, respek tidak pantas ditunjukkan bagi para mercenaries alias “tentara bayaran” yang hanya mengejar kontrak dan gaji besar, yang tak segan-segan “memaksakan” diri meninggalkan Lazio saat ada tawaran lebih baik atau kemungkinan kejayaan prestasi di klub lain. Masuk dalam kategori ini adalah Dejan Stankovic dan Goran Pandev. Maka tak heran, pemandangan “aneh” terjadi saat Lazio menjamu Inter di Olimpico. Secara tradisional Interisti adalah sahabat Laziali, maka tidak terdengar cemoohan saat pemain Inter diumumkan atau menguasai bola. Kecuali Stankovic dan Pandev, yang meninggalkan Formello demi uang. Saat ini Stankovic masih di Inter dan Pandev dipinjamkan oleh nerazzurri ke Napoli. Maka kita akan bisa menyaksikan sikap curva nord Olimpico pada keduanya nanti, saat Napoli dan Inter berkunjung ke ibukota.



Kekacauan mercato Januari 2012 akhirnya hanya mampu mendatangkan dua pemain baru ke Formello, Emiliano Alfaro dan Antonio Candreva. Pemain yang disebut terakhir ini sesungguhnya kelahiran Kota Roma dan tidak pernah memperkuat rival sekota Lazio, AS Roma. Sayangnya, track record pria Italia yang akan berusia 25 tahun 28 Februari nanti ini menunjukkan dia termasuk seorang mercenary. Empat klub diperkuatnya dalam waktu 4,5 tahun terakhir. Atau setidaknya, patut dipertanyakan kapabilitasnya mengingat tak satupun klub yang meminjamnya dari Udinese bersedia memermanenkannya. Tapi bukan itu yang terutama membuatnya ditolak curva nord Olimpico. Wawancaranya dengan World Soccer menjelang Derby della Capitale 2009 tidak akan terhapus dari ingatan Laziali. Saat itu, sebagai pemain Livorno, Candreva menjagokan AS Roma seraya mengatakan bahwa dirinya adalah seorang romanista, dan pada masa remajanya poster Totti dan De Rossi, idolanya, selalu terpasang di kamarnya. Tak heran, Laziali mencemoohnya saat namanya diumumkan, bahkan meneriakinya saat menguasai bola di Olimpico. Dan, runyamnya, penampilan Candreva selalu canggung sehingga Lazio Forever menghadiahinya gelar Flop of the Match pada laga lawan Atletico Madrid dan Palermo.



Gol Derby Dan Logo Lazio

Tentu saja Candreva menolak semua stigma yang menimpanya. Dia membantah bahwa dirinya seorang rmanista, dan mengatakan bahwa dia tak pernah menjadi bagian dari curva sud Olimpico. Hanya sedikit Laziali yang memercayai atau paling tidak melupakan masa lalunya. Arus utama curva nord tetap menolaknya. Semuanya dapat saja berubah, tetapi perubahan sikap ultras Lazio tentu tergantung Candreva sendiri. Seperti halnya Sinisa Mihajlovic “dimaafkan” oleh curva nord setelah mencetak gol ke gawang AS Roma pada Derby della Capitale, maka sebuah gol ke gawang tim kedua Kota Roma pada derby bulan Maret nanti akan mampu meluluhkan hati curva nord. Bukan tugas ringan bagi Candreva karena stigma “romanisti berkostum birulangit” yang melekat pada diri Candreva akan membuatnya pada posisi serba-salah dan dicemooh oleh kedua curva pada derby nanti. Bagi curva nord Candreva adalah “penyusup” dan bagi curva sud dia adalah “penghianat”. Ultras Lazio sesungguhnya membukakan jalan pintas bagi Candreva. Melalui rilis di situs Irriducibili Lazio minggu lalu, Candreva ditantang secara terbuka untuk datang ke depan curva sud pada derby nanti, dan mencium logo Lazio di dadanya. Kita lihat saja apakah Candreva cukup bernyali untuk berbuat itu.



Sekali Lagi, Inilah Irriducibili Lazio

Nama grup dan kelompok dapat beraneka rupa, generasi pasti berganti, tetapi core atau inti curva nord Olimpico tetaplah Irriducibili Lazio, kelompok ultras paling fenomenal di Italia. Kalau Fossa dei Leoni Milan dan Boys SAN Inter didirikan saat kedua raksasa Kota Milano bersaing di puncak klasemen Serie-A, Irriducibili Lazio justru lahir saat Lazio terpuruk di dasar klasemen Serie-B dan terancam terjungkal ke Serie-C1 tahun 1987. Maka Irriducibili Lazio bukanlah glory hunter. Irriducibili Lazio lahir dari kecintaan luar biasa ultras Lazio pada Elang Ibukota. Lebih daripada itu, Irriducibili Lazio memegang teguh prinsip independensi, solidaritas dan loyalitas. Bagi non-Irriducibili Lazio, sikap-sikap bertentangan bahkan konfrontatif terhadap manajemen Lazio, termasuk pada kasus Candreva, mungkin terlihat aneh. Tetapi sesungguhnya itu adalah manifestasi sikap independen, Irriducibili Lazio memang lain daripada yang lain. Ketika Boys SAN, Fossa dei Leoni, Ultras Juventus atau Ultras Roma menikmati berbagai fasilitas dan dukungan finansial dari manajemen klub, Irriducibili Lazio secara konsisten menolak semuanya, bahkan untuk selembar bendera pun mereka tak mau menerimanya dari manajemen Lazio.



Selebihnya, Irriducibili Lazio hanya memberikan loyalitasnya pada tim Lazio. Ke dalam, sikap solidaritas membuat perbedaan pendapat di antara ultras Lazio sangat dihargai dan tidak menimbulkan perpecahan. Anda boleh pro kehadiran Candreva atau menolaknya. Cuma satu saja yang penting. Kalau Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum dalam iklan televisi Partai Demokrat mengatakan, “Katakan Tidak Pada Korupsi”, maka di dada Irriducubili Lazio pun selalu bergema, “Katakan Tidak Pada AS Roma.”
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

About the Author Muhammad Afdhal

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

No comments

Leave a Reply

Streaming

video

Sepak Bola

INTER Dalam Sejarah

Artikel Bebas